Close

Kue Sumba yang Terlupakan : Menghidupkan Kembali Tradisi Kuliner Lokal

Kue Sumba yang Terlupakan : Menghidupkan Kembali Tradisi Kuliner Lokal
  • PublishedJanuari 16, 2026

meditoriales.org  – Pulau Sumba, selain terkenal dengan keindahan alam dan budaya tradisionalnya, menyimpan kekayaan kuliner yang unik, salah satunya adalah ragam kue tradisional. Sayangnya, seiring modernisasi dan masuknya makanan instan, beberapa kue khas Sumba mulai terlupakan. Padahal, setiap kue memiliki cerita dan makna budaya yang mendalam bagi masyarakat lokal.

Kue Tradisional yang Mulai Tersisih

Beberapa kue tradisional Sumba yang kini jarang ditemukan antara lain lapet, kue manis beras ketan, dan kue manisan khas desa adat. Lapet, misalnya, adalah kue berbahan dasar beras ketan yang dibungkus daun dan dikukus, sering disajikan dalam upacara adat. Sayangnya, generasi muda lebih mengenal jajanan modern sehingga kue ini jarang dijumpai di pasar atau rumah makan.

Mengapa Kue Tradisional Penting

Kue tradisional Sumba bukan hanya soal rasa, tapi juga penyimpan nilai budaya. Dalam setiap upacara adat, kue ini melambangkan rasa syukur, kebersamaan, dan identitas lokal. Dengan melestarikan kue-kue ini, masyarakat tidak hanya mempertahankan kuliner, tetapi juga menjaga warisan budaya yang unik.

Upaya Menghidupkan Kembali Tradisi Kuliner

Beberapa komunitas di Sumba mulai melakukan inovasi agar kue tradisional kembali diminati. Misalnya:

  • Membuat varian modern dengan tambahan rasa atau tampilan menarik.
  • Menyediakan kue tradisional di pasar wisata atau kafe lokal.
  • Mengajarkan resep kue ini melalui workshop kuliner untuk generasi muda.

Menjadi Bagian dari Perjalanan Wisata

Bagi wisatawan, mencicipi kue tradisional Sumba bisa menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar kuliner. Setiap gigitan membawa cerita tentang budaya, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Sumba.

Dengan dukungan masyarakat dan wisatawan, kue Sumba yang hampir terlupakan ini bisa kembali hidup dan menjadi kebanggaan kuliner Indonesia. Melestarikan kue tradisional berarti menghargai sejarah, budaya, dan kreativitas lokal yang tak ternilai harganya.

Baca juga > Panduan Perjalanan ke Pulau Sumba

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *